Agustus 09, 2010

jangan pernah lupakan aku dan semua

potongan kayu coklat yang dibentuk sederhana. pintu klasik biasa bernuansa coklat dan biru kehijauan. dengan ruangan kecil, satu AC biasa, tata ruang yang nyaman, komputer yang tersambung dengan koneksi internet, bantal, karpet, foto2, dan kenangan.
waktu itu, hanya dengan memegang gagang pintu ini lalu membuka pintunya, aku akan menemui ruangan sejuk, dengan sejuta kasih sayang di dalamnya.
aku bisa melihat sosok lelaki berkumis yang menjadi idola semua idola. hahaha. lelaki baik hati yang berbudi mulia, perhatian kepada "anak2nya" walau kadang kata2nya atos. bisa kusapa lembut dengan salam islam, dan beliau menjawab salamku dengan senang hati dan penuh senyum. Pak Komari.
aku bisa masuk, langsung duduk di kursi yang tersedia, berkumpul bersama teman2ku yang dengan penuh percaya dirinya.... boleh jumpalitan, loncat2, ndlosor2, bawa jajan dari kantin, makan, numpahin makanan, bersihin, make2 dasinya pak kom, ngenet gratis, ngoret2 papan tulis, foto2, numpang istirahat, nangis, tidur, guling2, sampe diraktir mi ayam.
aku bisa main sama adekku, adek kita, Nesa Oca.
aku bisa ketawa cekikikan bareng2.. aku bisa kesana setiap saat. dan nggak pernah bingung mau ngadem dimana waktu kepanasan dan nggak ada kerjaan. ditemenin Laras, Vania, Alice, Dita, Wulan, Odhi, Amel, Jane, Tika. dan yang lain kalo mau join.
rasanya nggak pengen berakhir. karena setelah itu ternyata...
pintu coklat ini tidak pernah ingin menemukan pengganti kami. pintu ini tidak akan lagi terbuka dalam suasana yang sama. rasa yang sama. tata ruang yang sama. karena kami pergi.
kami harus pergi. kami harus mengejar cita dan asa kami masing2..
aku, harus mengejar citaku untuk menjadi seorang dokter. dokter yang sukses dan berbudi mulia. begitu pula Laras, Dita dan Alice.
Tika dan Odhi harus mengejar asanya untuk menjadi seorang diplomat sukses.
Vania harus pergi mengejar keinginannya untuk menjadi koki handal yang professional.
serta Jane yang harus mengejar harapannya untuk menjadi seorang psikolog anak internasional.
Amel yang ingin mewujudkan cita2nya menjadi seorang pejabat yang jujur.
dan Wulan, dengan kelihaian tangannya akan berkarya sebagai arsitek (kalau belum berubah lagi) hihi.
kawan, aku doakan semoga asa kita akan terwujud. amin ya Allah. aku tidak akan melupakan segala kenangan yang telah membuat aku merasakan memiliki sahabat sesungguhnya, dengan kalian yang selalu menerima kekuranganku.
memang posting ini sedikit terasa klise, tapi ini memang yang aku rasakan.
dan walaupun aku tidak bisa lagi membuka kenanganku secara nyata dengan membuka pintu coklat kesayangan kita. jikalau dia bisa mengeluarkan kata2, aku yakin ia hanya ingin berbisik, "jangan pernah lupakan aku dan semua, kejarlah citamu selagi aku melapuk disini".

1 komentar:

  1. Asa yang membumbung ke angkasa, cita-cita yang tergantung di awan sana. saat memandanginya,tak terpikir kita akan jauh meninggalkan tempat berpijak selama puluhan bahkan ratusan minggu dan bulan. Anakku... saat ini kalian beterbangan diantara mega satu... berlompatan diantaranya. Mencari tempat yang nyaman, memilih tempat aman, untuk dijadikan batu loncatan menuju mayapada cita-cita. Sekilas saat kalian melihat ke bawah, melihat bumi tempat kalian di lahirkan, besar, tumbuh,dewasa. Bumi itu akan tampak kecil... asing, seakan tak pernah kalian berpijak disana. Namun ingatlah, dari sanalah kalian berasal dan menuju.......
    Tetaplah berloncatan melewati mega-mega, tetaplah kalian mengangkasa.... kejarlah cita2 setinngi yang kalian bisa...
    Anak2ku... Selamat berjuang....
    Daddy hanya sebagian kecil dari titik-titik yang terlihat dibumi. Kadang titik-titik itu kelihatan nyata.. kadang hilang sama sekali.. tertutup zaman yang semakin tua

    BalasHapus