(Para pemain masuk diiringi lagu Jaranan)
(Ketika pemain lain masuk, Bawang Putih bersiap-siap dibelakangnya)
(Play-Gending Jawa)
Alkisah di sebuah desa yang sangat indah tinggal sebuah keluarga kaya raya pemilik perkebunan teh ternama, Keluarga Subroto. Keluarga yang terdiri dari keluarga inti dengan satu anak gadis yang cantik jelita bernama Bawang Putih. Walaupun hidup bergelimang harta, tak membuat Bawang Putih dan keluarganya tinggi hati. Hidup mereka sangat bahagia, hingga pada suatu hari dimana saat Ibu Bawang Putih makan bakso bersama dengan salah seorang tetangganya, yakni Nyonya Bawang Bombay..
IBM : “Huahahahaa.. Sebentar lagi aku akan menjadi Nyonya Subroto!
(Ekspresi licik sambil menuangkan racun ke dalam mangkok bakso Nyonya Subroto)
Rencana Nyonya Bawang Bombay pun berhasil, ia berhasil meracuni bakso milik Nyonya Subroto dan na’asnya ia pun juga berhasil membunuh Nyonya Subroto.
(Para tetangga melayat ke rumah Bawang Putih)
BP : (Menangis sesegukan)”Huhuhu ibuuu, ibuuu, mengapa bisa seperti ini.. Jangan Tinggalin Bawang Putih..”
TS : “Mama kenapa pergi secepat ini?! Asal mama tahu, gak akan ada yang bisa gantiin mama di hati papa”(Menagis)
(Play - Takkan Terganti By Marcel)
(Nyonya Bawang Bombay dan Bawang Merah masuk)
IBM : “Assalamualaikum. Hmm.. yang tabah ya mas. Saya ngga bener-bener ngga nyangka ada orang yang berbuat setega itu sehingga Nyonya Subroto meninggal, Bawang Putih juga yang sabar yaa nduk” (Ekspresi licik, pura-pura prihatin)
(Play – Pandangan Pertama By Slank Feat. Nirina Zubir)
TS : (Berpaling ke arah Nyonya Bawang Bombay, terpana)
“Iya, terima kasih Bawang Bombay. Kamu perhatian sekali..”
Kecurigaan pun muncul di benak Bawang Putih, namun karena dia adalah anak yang tidak suka berprasangka, maka dia memutuskan untuk diam saja.
Setelah selesai melayat, Nyonya Bawang Bombay dan Bawang Merah pulang dengan hati berbunga-bunga dengan otak penuh rencana-rencana..
(Nyonya Bawang Bombay dan Bawang Merah tampak sedang bersantai sore)
IBM : (sambil bersantai)“Ijjaaaah!”
I : “Iya Nyaaaa”(Menghampiri Sang Nyonya)
IBM : “Hihihiii”(Malu-malu)
I : “Lho napa to Nyaa?”
IBM : “Hihii, menurut kamu Tuan Subroto itu gimana??”
I : “Oh duren yang lagi ngetren itu Nyaa?”
BM : “Duren darimana??”
I : “yaaa duda kerensss gitu loooh”
BM : “Ih si ijah mah sok gahol banget”
I : “Eh non gini-gini saya titelnya Ijah Surijah, Mgh . Master Gahol dikampung saya!”
BM : “Idiih gelar apaan tuh!”
IBM : “Ehhh udah-udah, ribut aja dari tadi, lama-lama tak jodohin kalian!”
I +BM : hiiii.. ogah..
BM : “Lagipula Bawang Merah kan udah sama Adri Bakrie!”
I : “Idiih.. Adri Bakrie kan uda sama Nia Ramadhani! Non kagak up to date ah!”
BM : (Kembali menatap laptop sambil komat-kamit dalam hati)
IBM : “Sudah-sudah! back to the topic, Jah enaknya gimana ya caranya ndeketin Kangmas Broto?”
I : “Ini Nyaa (Menyerahkan kartu nama)
IBM : “Apa ini?”
I : “Kenalkan, Ijah Surijah mak comblang kondang masa kini!”
IBM : “Ee lha dalah kamu tu jadi orang kebanyakan tetek bengek og Jah”
I : “Yah gaya dikit kan boleh Nyaa, hihi”
IBM : “Yowes kamu nanti anterin makan siang sama surat ini ke Tuan Broto yaa!” (menyerahkan amplop)
I : “Siiip daaah!”
(Nyonya Bawang Bombay berkali-kali mengantarkan makanan ke rumah Keluarga Subroto)
Comblang mencomblang pun berlangsung dengan lancar hingga Nyonya Bawang Bombay berani untuk mendekati Subroto secara langsung. Hingga tak butuh waktu lama bagi Tuan Subroto memutuskan untuk menikahi Nyonya Bawang Bombay.
(Play - Endless Love By Mariah Carey & Luther Vandros)
IBM : “Terimakasih kangmas, cincinnya bagus ya!” (menunjukkan cincin ke Tuan Subroto)
TS : (Mendekat ke arah Nyonya Bawang Bombay) “Iya dong, apa sih yang ngga buat kamu dek. Aku akan kasih apaa aja yang kamu mau, apa aja!”
IBM : “Beneran kangmas?! Apa aja?!”
TS : “Tentu saja dong! Hmm.. Ternyata kangmas tidak salah ya untuk memilih kamu dek. Menurut kangmas, kamu bisa menjadi Nyonya Subroto yang baik sekaligus ibu yang baik untuk Bawang Putih”
IBM : “Hmm.. Tentu saja dong kangmas” (Ekspresi licik penuh rencana)
Awalnya semua berjalan sebagaimana mestinya. Sebagaimana sebuah keluarga pada umumnya, seorang istri yang memberikan kasih sayang untuk suaminya, seorang ibu yang mengayomi anaknya. Hingga pada suatu hari..
(Handphone Bawang Merah terus berdering)
(Bawang Putih tidak sengaja lewat di depan handphone yang berdering)
BP : (Melihat ke arah HP Bawang Merah) “Aduh Kak Bawang Merah mana ya? Dari tadi HP nya bunyi terus. Hmm.. Angkat ngga yaa?” (Menimang-nimang HP Bawang Merah)
BM : (Masuk sehabis selesai mandi) “Eh! eehh! Nagapain kamu?!”
BP : (Kaget, menjatuhkan HP Bawang Merah) “Ah aduh anuu anu kak.. Aduh!” (PRAAANG, HP Bawang Merah terjatuh)
BM : “Huaaaaa! Mami! Mami! OMG Mami!!”
IBM : (Masuk, lari tergopoh – gopoh) “Aduh ada apa tho sayang? Kok teriak - teriak gitu?!”
BM : “Huhuhuhu ini nih HP aku dibanting sama dia!” (menuding bawang putih)
BP : “Ngga Mah, bukan gitu, jadi..”
TS : (Tiba-tiba masuk) “Ada apa ini kok ribut-ribut?”
BM : “Ini papi, tadi Bawang Putih ngebanting HP Bawang Merah. Kayaknya Bawang Putih ngga suka ama aku deh pap, huhuu.. Buktinya dia ngebanting HP aku, tadi aku liat sendiri pap! (Tersenyum licik ke arah Bawang Putih)
ABP : “Kenapa kamu melakukan itu Putih?!”
BM : (Baru memulai akan bicara)
IBM : (Memotong pembicaraan) “Hmm.. Saya kecea kangmas. Tapi tak apalah namanya juga anak-anak. Sekarang yang lebih penting adalah memberikan handphone baru untuk Bawang Merah. Dia ngga bisa hidup tanpa HP. Bagaimana kangmas?”
BM : (Tersenyum pada Tuan Subroto)
ABP : “Tentu saja sayang, ide yang bagus. Bawang Merah kan juga anak papi!
(Menoleh ke arah Bawang Putih) “Hmm.. Ayah kecewa, Bawang Putih. Ya sudah ayo kita pergi sayang!”
BM : “Oke!” (Ekspresi mengejek ke arah bawang Putih)
IBM : “Ayo ayo!”
(Tinggallah Bawang Putih seorang diri)
(Play – When You Believe By Mariah Carey & Whitney Houston)
(Nyonya Bawang Bombay dan Bawang Merah bertindak semena-mena pada Bawang Putih)
(Play – My Heart Will Go On By Kenny G)
Semenjak menikah dengan Nyonya Bawang Bombay, Ayah Bawang Putih menjadi berubah 180 derajat. Menjadi tidak seperti Ayahnya lagi. Semenjak tragedi jatuhnya HP Bawang Putih pula, hidup Bawang Putih menjadi malapetaka. Setiap hari Bawang Putih diperlakukan semena-mena, ditambah lagi sekarang Ayah Bawang Putih terkena stroke karena memang usianya yang sudah tak muda lagi. Hingga akhirnya..
(Bawang Putih menemani ayahnya yang terbaring sekarat)
TS : (Berbaring sakit) “Anakku, maafkan ayah selama ini jika ada salah, ayah sudah tidak ku-ku-a-att la-lag-ggii.. AAAA!”
BP : (Menangis histeris) “Ayaaaah!! Tidak! Bangun Ayah! Jangan tinggalin Bawang Putih sendirian! Jangaan!”
(Play - Possibillity By Lykke Li)
(Nyonya Bawang Bombay dan Bawang Merah berfoya-foya dengan harta Keluarga Subroto)
(Play – I’m A Big Big Girl By Emilia)
Kini Bawang Putih hidup sebatang kara. Hanya tinggal Ibu dan kakak tirinya yang selalu bertindak semena-mena padanya. Tak ada sedikitpun raut sedih di wajah ibu dan anak itu. Justru inilah tujuan mereka, menunggu kematian Tuan Subroto dan menguasai hartanya.
(Bawang Merah dan Ibunya duduk santai sedangkan Bawang Putih mengepel lantai. Ijah asyik dengan HP barunya)
BM : “Eh eh ehhhhhhhh! Yang bersih dong yaa.. Aduuuh capek deeeh ngepel aja kok ngga becus!”
BP : “Iya maaf kak. Tapi kenapa dari kemarin harus aku kak yang mengerjakan pekerjaan rumah? Kan ada Ijah kak”
BP : “Oh berani ngelawan ya!”
I : “Emang neng ngga liat apa?! Ijah lagi sibuk ama HP baru Ijah! Canggih ni ada jeruji nya”
BM : “3G kaleee”
I : “Eh iya itu maksud Ijah Non!”
BP : (Tertunduk sedih)
IBM : “Udah-udah daripada ribut ngurusin ni bocah satu, mendingan pada temenin mami lunch nyok!”
BM : “Oke deh Mi!”
I : (Sengaja menyenggol Bawang Putih) “Kerja yang bener! Haha”
(Semua pergi)
BP : “Ya Allah kenapa semua menjadi seperti ini? Tolong beri hamba-Mu ini kesabaran Ya Allah.. Tapi aku yakin suatu hari nanti, ibu pasti menyayangiku seperti anaknya sendiri..”
Keesokan harinya..
BM : “Bawang Putihhhh!”
BP : “Iya kaaak, ada apa kak?”
BM : (Melempar pakaian ke arah Bawang Putih) “Nih cuci semuanya ya, punya Ijah juga sekalian. Kasihan kan si Ijah udah capek seharian kerja!”
BP : “Tapi kan kak..”
BM : “Udah ngga usah tapi-tapian! Oya, dan satu lagi. Hati-hati tuh baju, baju muaahaal ya! Apalagi ada selendang kesayangan mami yang mau di pake ke Pesta lusa, awas ya kalo ampe rusak! Ngga di kasih makan baru tau rasa”
BP : “Iya kak, Bawang Putih bakal hati-hati kok..”
BM : “Yaudah cepetan, sana!
(Play – Suara kicauan burung dan aliran air sungai)
Bawang Putih pun tiba di sungai. Ia pun segera menyelesaikan tugasnya dengan hati-hati. Hingga tiba-tiba tidak sengaja selendang Ibu Bawang Merah hanyut terbawa arus sungai..
BP : “Waaa! Selendangnya! Aduh! Selendangnya! (Mengejar selendang mengikuti arah arus)
Setelah berusaha untuk mencari-cari selendang ibunya, Bawang Putih pasrah dan memutuskan untuk kembali ke rumah dengan perasaan bersalah karena hingga kini selendangnya tak kunjung ditemukan..
IBM : bawang merah, kamu udah siapin baju buat kondangan nanti malam sayang?
BM : udah bu, aduh aku pasti bakal jadi ratu pesta nanti malam! Ahahahaha
IBM : eh bawang putih! Dimana selendang ibu yang tadi kamu cuci? Itu selendang kesayangan ibu, mau ibu pakai ke pesta nanti malam.
BP : emm anu itu bu, anu.. anu..
IBM : apaan anu anu?
BP : selendangnya.. hilang..
BM : APA?! HILANG?!
IBM : eh apasih kamu kok malah heboh sendiri?
BM : yee..
IBM : aduh, kok bisa hilang gimana ceritanya?
BP : itu bu... hanyut…
IBM : yaampuuuuun, pokoknya kamu pergi sekarang cari selendang itu. Dan boleh pulang kalau belum ketemu!
BP : baik bu..
(Play – Sewu Kota By Didi Kempot)
Bawang Putih hanya bisa pasrah dan berusaha mencari sebisa mungkin..
BP : (duduk di sebuah bangku menemukan sebuah ceret) ah apa ini? (diambil sambil di gosok-gosok) yaampun, ditempat sepi kayak gini kok ada ceret nyasar sih..
P : ihihihihihi ihihihihihi
BP : eh siapa kamu?
P : ihhihihihihi aku adalah ibuuu~ peri~
BP : hah? Jaman internet masih ada peri?
P : eh jangan salah ya.. saya aja punya BB! (ngeluarin BB)
BP : eh lha?
P : okedeh, sekarang, kamu pengen apa?
BP : ha? Apanya?
P : karena kamu sudah menggosok ceret ajaib ini, kamu boleh minta tiga permintaan.
BP : wah kebetulan, aku lagi butuh bantuan nih ibu peri!
P : sip sip ada apa?
BP : aku menghilangkan selendang kesayangan ibu tiri ku. Dan aku belum boleh pulang sebelum selendang itu ketemu. Padahal hari sudah mulai gelap.
P : oke tunggu sebentar.. (sok mikir) selendang itu kamu cuci tadi pagi?
BP : iya
P : kamu sedang asik mencuci lalu tau-tau hilang?
BP : iya benar
P : nah ketemu! jadi selendang itu ditemukan oleh salah seorang kakek yang tinggal di muara sungai ini.
BP : baiklah, ayo kita kesana.
Akhirnya mereka pun pergi ke rumah kakek yang berada di muara sungai.
Tok tok tok!
BP : assalamu’alikum!
K : wa’alaikumussalam.. wah, siapa ini?
BP : anu.. kek.. ini.. betul tidak kakek menemukan sebuah selendang yang hanyut di sungai tadi pagi?
K : sebentar, (mengambil sesuatu) yang ini bukan?
BP : (muka sumringah) benar kek!
K : tapi kamu tau dari mana kalau kakek yang menemukan?
BP : dari ibu pe.. lho eh? (menyadari ibu peri tidak ada) em.. anu.. tadi saya mengira-ngira saja..
K : oh yasudah, kakek akan memberikan selendang ini, namun sebagai balasannya kamu harus membersihkan rumah kakek..
BP : wah kalau itu saya pasti akan melakukannya dengan senang hati!
Akhirnya bawang putih membersihkan rumah si kakek.
K : baiklah kalu begitu, ini.. (menyerahkan selendang) makasih ya nak.
BP : sama-sama kek. Kalau begitu saya pulang dulu ya kek.. Assalamu’alaikum.
K : wa’alaikumsalam. tunggu dulu, siapa namamu nak?
BP : bawang putih kek.. (tersenyum lalu meninggalkan tempat)
Di rumah keluarga bawang putih..
BP : ibu.. selendangnya sudah ketemu..
BM : (yang sedari tadi main laptop) ah kamu! Dasar, hari gini baru dapetin selendangnya. Nggak jadi deh aku jadi ratu pesta. Nggak jadi makan enak. Padahal banyak cowok-cowok ganteng.
BP : mm maaf..
IBM : udah, pokoknya kamu gak dapet makan malam hari ini!
BP : hah?
IBM : yaudah! Masuk sana!
BP : iya bu…
(di kamar bawang putih)
BP : (menggosok ceret)
P : ihihihiihhi halo anak maniiiis
BP : ibu periii.. (nada lirih)
P : kamu kenapa baby?
BP : huhu aku lapeeeer. Masa gara-gara ngilangin selendang yang ujung-ujungnya udah ketemu aja aku nggak boleh makan malem. Padahal aku belum makan seharian.
P : ah itu masalah gampang, tinggal make a wish aja!
BP : o iya ya. ibu peri, aku pengen makan malem.
P : oke bos! (menggoyangkan tongkat, seketika itu juga ada makanan yang enak)
BP : waaaaaah!
Sementara itu..
BM : ibu! Lihatlah!
IBM : apasih?
BM : itu, bawang putih..
Ternyata sedari tadi Bawang Merah dan ibunya mengintip apa yang dilakukan bawang putih. Seketika itu juga..
(bawang merah dan ibunya masuk ke kamar)
BM : hayo! Lagi apa kamu?
BP : anu.. nggak papa..
(ibu peri cuek)
IBM : loh kok ada manusia bersayap disini?!
P : olha.. telo
BM : eh kamu! Jelasin siapa dia!
BP : ah..
BM : ayo cepetan jelasin!
BP : peri. Boleh minta apa aja. tapi cuma tiga permintaan.
BM : bu.. aku pingin makan enak malam ini kayak bawang putih.. (merengek pada ibunya)
IBM : yaudah siniin ceretnya! (sambil merebut ceret dari Bawang Putih)
(menggosok ceret)
eh peri, nih udah aku gosok. Sekarang, turutin kemauanku. Aku mau makan enak malam ini.
BM : pizza pizza!
P : nih (nggak ikhlas)
BM : asikkkk.
(bawang merah dan ibunya makan pizza tersebut)
IBM : aduh aduh
BM : ibu sakit bu!
P : ahahahahaha
BP : loh ibu? Merah? Kenapa?
Akhirnya bawang merah dan ibunya meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan..
(Play – Season In The Sun)
BP : ibu peri.. bagaimana ini.. aku sendirian.. aku sudah tidak punya siapa-siapa..
P : tenang anak manis, masih ada ibu peri disini.. ini semua bukan gara-gara kamu kok.. ini kan gara-gara mereka sendiri
BP : (menangis tersedu-sedu)
I : (memasuki ruangan) masih ada saya juga kok non.. maafin saya ya non selama ini.. habis, saya disuruh sih..
BP : iya gapapa kok jah. Saya sudah maafin.. Makasih ya.. kalian masih mau baik sama aku..
Akhirnya, bawang putih tumbuh dewasa layaknya anak-anak remaja lainnya bersama ibu peri dan Ijah.. Happy Ending!
(Play - Suwe Ora Jamu)
Brelian Novitasari as Bawang Putih (BP)
Ayu Anggraini as Ibu Bawang Merah (IBM)
Adabella Tansy as Bawang Merah (BM)
Febrian Nada as Ijah (I)
Irfan asAyah Bawang Putih (ABP)
Anggara Hapsari as Ibu Peri (P)
Agus Tri as Kakek (K)